APARATUR DESA PAKRAMAN TEGAL MEJAYA-JAYA

Wisma Wahyudi 27 Juli 2018 13:29:50 WITA

hari ini purnama sasih karo tanggal 27 Juli 2018 pada hari inilah dilakukan pejaya-jayaan pejabat desa pakraman yang baru disaksikan langsung oleh perbekel mengening,pecalang,teruna pesaren dan dipuput oleh jero mangku desa( gede) dengan banten rebu agung atau Byakala dan Prayascitta.

Banten byakala adalah bentuk penyucian secara lahiriah, sedangkan Prayascitta adalah bentuk penyucian secara rohaniah.

Inti dari Banten Byakala terdiri dari :

  1. Alasnya berupa ayakan atau dalam bahasa Bali disebut sidi.

Sidi atau ayakan dalam keseharian kita digunakan sebagai saringan. Jadi disini makna sidi adalah menyaring wujud yang kasar menjadi wujud yang halus, dalam hal ini untuk meningkatkan sifat-sifat Butha Kala dari yang kasar menjadi halus untuk membantu manusia dalam menangani berbagai pekerjaan dalam rangka beryajna

  1. Diatas sidi diletakkan kulit sesayut  (aled berbentuk bundar yang terbuat dari slepan/janur yg agak tua dan berwarna hijau tua )

Ini melambangkan hidup di dunia sekala ini diusahakan dengan cara bertahap dengan rencana yg matang menuju tujuan yg semakin baik. Kulit sesayut sejalan dg arti kata Sesayut, yg berasal dari kata “ayu” yang berarti kerahayuan. Jadi dari sini terlihat bahwa tujuan dari banten byakala ini adalah merobah keadaan dari yang kurang baik menjadi baik.

  1. Kulit peras pandan berduri (Pandan Wong)

Dalam lontar Yajna Prakerti, peras berarti prasidha, artinya sukses dengan mengendalikan Tri Guna. Dengan mengendalikan Tri Guna di Bhuvana Alit dan Bhuvana Agung kita akan mendapat kekuatan yg tangguh untuk menyucikan kotoran yg bersifat sekala. Sedangkan Kulit peras dari Pandan Wong adalah lambang  senjata untuk melindungi kebenaran yg diperjuangkan oleh manusia.

  1. Nasi metajuh dan nasi metimpuh

Nasi metajuh dan matimpuh terdiri dari nasi yang berisi garam dan lauk pauk lainnya lalu dibungkus dengan daun pisang dengan dibentuk sedemikian menjadi berbentuk segiempat (matajuh) dan bentuk segitiga (matimpuh). Nasi beserta garam dan lauk-pauknya bermakna alam beserta isinya. Sedangkan dibungkus dengan daun bermakna bahwa alam beserta isinya wajib dilindungi dari pengaruh Buthakala. Hal ini erat kaitannya dengan cerita Mahabrata saat Dewi Gandhari mendapat wahyu dari Tuhan untuk memberi kekuatan pd Duryodhana putranya melalui penglihatannya, namun saat itu Duryodhana justru menutup kemaluannya sehingga saat perang Duryodhana mati terbunuh oleh Bima karena dipukul dibagian kemaluannya. Metimpuh dan metajuh sebagai symbol laki dan perempuan. Artinya kedua-duanya harus mendapat perlindungan dari pengaruh Buthakala.

  1. Lis alit/lis bebuu/lis byakala

Berbeda dengan Lis senjata pada Prayascita, Lis bebuu terdiri dari ; tangga menek, tangga tuwun, jan sesapi, ancak bingin, alang-alang, tipat pusuh, tipat tulud, basing wayah, basing nguda, tampak, tipat lelasan, tipat lepas, tipat kukur dll lalu dibungkus dan dijadikan satu dengan jejahitan yg bernama “takep jit” dan diikat menjadi satu. Ini bermakna menghilangkan Dasa Mala (slokantara 84) yaitu sepuluh macam perbuatan kotor yang tidak layak dilakukan.

  1. Sampyan padma

Merupakan symbol Dewa Siwa sebagai pembasmi yang bersifat negative.

  1. Pabersihan payasan serta satu takir isuh-isuh ( sapu lidi-tulud sambuk-danyuh dan satu takir benang merah)

Merupakan symbol sarana untuk membersihkan Bhuvana alit dan Bhuvana Agung

  1. Sampyan nagasari dari daun endong merah dilengkapi dengan bunga, kembang ramped an porosan

Kata Nagasari terdiri dari kata “Naga” dan “Sari”.Naga dalam bahasa Sansekerta berarti ular dan juga berarti bumi tempat mahluk hidup mengembangkan dirinya. Sedangkan Sari berarti inti yang paling utama. Jadi nagasari melambangkan prosesi penyucian inti dari Bhuvana Alit dan Bhuvana Agung.

Kata “Peras” berarti “Sah” atau “Resmi”, dengan demikian penggunaan banten “Peras” bertujuan untuk mengesahkan dan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin. Secara lahiriah, banten Peras telah diwujudkan sebagai sarana dan secara bathiniah dimohonkan pada persembahannya. Disebutkan juga bahwa, banten Peras, dari kata “Peras” nya berkonotasi “Perasaida” artinya “Berhasil”. Dalam pelaksanaan suatu upacara keagamaan, bilamana upakaranya tidak disertai dengan Banten Peras, maka penyelenggaraan upacara itu dikatakan “Tan Paraside”, maksudnya tidak akan berhasil atau tidak resmi/sah. Makna banten peras tersebut adalah sebagai lambang kesuksesan. Artinya dalam banten peras tersebut terkemas nilai-nilai berupa konsep hidup sukses. Konsep hidup sukses itulah yang ditanamkan ke dalam lubuk hati sanubari umat lewat natab banten peras. Dalam banten peras itu sudah terkemas suatu pernyataan dan permohonan untuk hidup sukses serta konsep untuk mencapainya.

Dalam Lontar “Yadnya Prakerti” disebutkan bahwa Peras dinyatakan sebagai lambang Hyang Triguna Sakti demikian juga halnya dalam penyelenggaraan “Pamrelina Banten” disebutkan Peras sebagai “Pamulihing Hati” artinya kembali ke Hati, yaitu suatu bentuk Sugesti bagi pikiran telah berhasil melaksanakan suatu keinginan serta mencapai tujuan yang diharapkan

 

 

Komentar atas APARATUR DESA PAKRAMAN TEGAL MEJAYA-JAYA

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

JAM DIGITAL

kalender bali

Lokasi MENGENING

tampilkan dalam peta lebih besar